Pages

Rabu, 30 Januari 2013

TEMAN



Oleh : Iqbal Zen

Akhir-akhir ini media massa sibuk memberitakan penangkapan salah satu artis berinisial RA bersama teman-teman yang berjumlah 17 orang yang sedang berpesta “barang haram” oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Ironisnya, Terdapat pasangan artis yang ikut terjaring ketika itu meskipun sejatinya ia tidak mengetahui apa-apa. Namun, karena keberadaannya di Tempat Kejadian Perkara (TKP) sehingga ia pun termasuk ke dalam orang-orang yang kemudian diamankan dan diperiksa. 

Selidik punya selidik ternyata pasangan yang mengaku hanya silaturahmi yang kebetulan terjadi penggerebekan. Setelah adanya pemeriksa melalui tes urine, rambut dan sebagainya maka pasangan tersebut dinyatakan negatif sehingga ia pun dibebaskan. Terlepas apakah ia (pasangan artis muslim-red) dijebak atau tidak oleh salah seorang temannya yang digerebek untuk datang ke tempat tersebut, yang ingin penulis katakan bahwa haruslah selektif dalam memilih teman. 

Untuk dijadikan sebagai teman, seseorang haruslah memiliki spesifikasi khusus sehingga bukan teman yang malah mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang negatif. Penulis memaknai “teman” sebagai seorang yang spesial. Memang benar dalam konteks sosial kita tidak boleh memilih untuk berkenalan dengan siapa pun seperti pencuri, penjambret, pembunuh, ataupun kepada seorang pelacur. Tapi untuk dijadikan sebagai seorang “teman” tunggu dulu. Artinya teman adalah orang lebih tinggi dari seorang kenalan biasa.
Seorang teman adalah orang yang ada untuk membantu ketika dalam keadaan yang perlu bantuan, yang menutupi aib-aib kita, orang yang menasehati kita ketika kelalaian menghampiri, memberi utangan ketika tanggal tua, hehe. Bukan malah mengajak kita menjauhi kita untuk membantah perintah orang tua, negara, bangsa dan terlebih perintah Tuhan. 

Dalam terminologi agama, kita disarankan dalam memilih teman. Ketika kita berteman dengan seorang yang berprofesi sebagai pandai besi tentu yang akan kita dapatkan adalah asap dan bau. Ini artinya malah memberi kemudlorotan bukan kemanfaatan. Namun, ketika berteman dengan seorang penjual minyak wangi kita pun akan menjadi wangi meskipun tidak membelinya. 

Lebih dari itu semua, dalam kitab al-Hikam, Syech Ibn Athoillah as-Sakandari mengatakan “maa shohibika illa man shohibika wa huwa bi’aibika ‘aliimun, wa laisa dzalika illa maulaka al-kariim. Khoiru man tashhabu man yathlubuka laa lisyaiin ya’uudu minka ilaih”. Artinya sahabat sejatimu adalah yang bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Dan hal itu tidak lain adalah Tuhanmu yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang mengaharapmu bukan karena keuntungan yang dia harap darimu. 

Sehingga yang tepat dijadikan teman sejati adalah Allah. Atau orang yang dapat mendekatkan diri kepadaNya. Dalam adagium yang sering terlontar di kalangan pesantren “kun ma’a Allah fa in lam takun ma’aAllah kun ma’a man ma’aAllah” jadilah orang yang bersama Allah, jika tidak dapat bersama Allah bersamailah dengan orang yang bersama Allah.[] Wa’alluhu’alam.

Kawah condro dimuko, 30 Januari 2013.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar