Pages

Selasa, 05 Februari 2013

MEMBUNUH ‘TUHAN-TUHAN’ BARU



Oleh : Iqbal Zen

Ibarat dua sisi mata uang, dalam kehidupan pastinya mempunyai dua sisi yang berbeda. Ada senang pasti ada susah, ada atas dan juga ada bawah, ada besar dan juga ada kecil, begitu juga ada mencintai dan ada pula yang membenci. Begitulah yang dialami oleh setiap nabi utusan Allah dalam menyebarkan dakwah islamiyah. Banyak batu terjal yang harus dilalui untuk mencapai puncak keemasan.

Dahulu, pada saat nabi Musa, terdapat beberapa entitas lawan yang harus diberikan dakwah, ada Qorun dengan limpahan hartanya, ada Fir’aun yang gila akan kekuasaan sampai-sampai mengaku dan mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan. Selain itu, ada seorang yang bernama Samiri yang membuat sesembahan berbentuk anak sapi yang kemudian disembah selama 40 hari. 

Yang ingin penulis sampaikan pada tulisan ini ialah, bahwa apa yang dibuat oleh Samiri merupakan suatu peradaban yang muncul kala itu. Tentu, hal semacam itu pada saat itu merupakan suatu hal yang luar biasa, membentuk emas menjadi bentuk yang menyerupai sapi. Entah dengan tekologi mesin cetak yang bagaimana dan memakan beberapa lama untuk membuatnya. Barang kali itu merupakan suatu bentuk kecanggihan pada zamannya sehingga Samiri dan pengikut-pengikutnya bersama-sama menyembah apa yang dibuatnya sendiri. Mengagung-agungkan ciptaan atau kemoderenan kala itu sebagai ‘Tuhan’. 

Bila kemudian kita tarik pada konteks sekarang, dengan bentuk “sapi-Sapi” baru produk teknologi memunculkan samiri-samiri baru pula. ‘Sapi-sapi’ yang telah berubah wujud menjadi teknologi-teknologi, games-games, movies, dan apa pun itu yang kemudian para samiri-samiri modern ‘menyembah’nya. ‘Sapi-sapi’ itu melalaikan manusia akan kewajiban-kewajiban yang melekat pada dirinya untuk menyembah kepada sejatinya Tuhan, Tuhan yang Sejati. Allah SWT. 

Salah satu contoh yang mungkin bisa kita saksikan bagaimana panggilan adzan dikalahkan dengan asyiknya menonton film, atau bermain games, BBM-an, Twitter-an, Fb-an, dan konco-konconya.

Kemuncullan berbagai macam teknologi sejatinya tidak melalaikan akan tugas utama manusia. wa ma khalaqtu al-Jinna wal Insa illa liya'budun. Tekologi dengan seperangkat seperti apa yang telah disebut diatas memang merupakan suatu keniccayaan yang dipatut disikapi secara arif, tidak dengan berlebih-lebihan. Justru dengan hadirnya segala bentuk teknologi dengan seperangkatnya membantu manusia untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya dan mempermudah segala bentuk urusan-urusannya. 

Na’udzubillah, semoga kita senantiasa terhindar dari sifat samiri yang menyembah sesembahan yang fana’. Marilah kita bersihkan aqidah dan keimanan kita dari hal-hal yang dapat mencemarkan kejernihan aqidah kepada Dzat yang Maha Mulia dan Maha Agung.  
Allahumma Inna naslaku Iman Kamilan, Shofiyyan. Amin.[]
* PonPes UII, 06 Februari 2013.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar