Pages

Jumat, 17 Mei 2013

WEJANGAN CINTA



Oleh : Iqbal Zen

Salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama adalah memberikan nasihat ke arah yang benar. Jikalau ada misalkan teman kita yang kurang pas, maka sudah menjadi kewajiban sesama  muslim untuk saling mengingatkan. Begitu pun Sang Illahi yang telah memberikan nasihat kepada hambaNya untuk saling nasihat menasihati kepada sesama manusia. Tanpa adanya sebuah nasihat maka yang akan timbul adalah sebuah kerugian yang mungkin tidak hanya berdampak pada pelakunya sa(ha)ja melainkan sangat mungkin terjadi kepada orang lain.

Sedemikian pentingnya nasihat tersebut, kami yang saat ini sedang berada di Universitas Sains Islam Malaysia pun merasakan iklim untuk memberi nasihat, arahan ataupun hikmah terasa. Misal yang sering kami temui adalah nasihat yang disampaikan melalui media tulisan yang tertempel di beberapa sudut bangunan. Ada salah satu nasihat (Malay: Arahan) yang kami dapatkan di kantin Kolej Kediaman (KK) 1 yang mengatakan “Dzikrunnas da.un wa Dzikrullah syifaun”. Mengingat-ingat manusia itu penyakit sedangkan mengingat Allah adalah obat. 

(Foto diambil di kantin Kolej Kediaman (KK) 1 USIM)
Sebagaimana dalam firmanNya, dalam tubuh manusia ada sebuah penyakit yang penyakit tersebut sangat mungkin bertambah dan bisa ju(g)a sembuh. Penyakit itu bertambah manakala hatinya tidak digunakan untuk selalu ingat kepada sang pembuat hati. Berbeda halnya, jika memang hati kita digunakan untuk senantiasa mengingat (dzikir) kepadanya. Mengingatnya tidak harus berada di dalam masjid. MengingatNya tentu dapat dilakukan dimana-mana.

Memang hal ini sangat sulit untuk dilakukan oleh kita pada umumnya. Seorang anak muda misalnya yang sudah mempunyai pacar, kemungkinan besar ia akan sering terbayang wajah pacarnya. Seorang yang baru mempunyai mobil baru, maka bisa saja fikirannya akan terbawa pada barang tersebut jika tidak disadari bahwa semuanya adalah bersumber dari-Nya.

Dari kata hikmah di atas, saya pribadi menyadari sepenuhnya bahwa kita seharusnya mengingat Allah dalam keadaan apapun. Terkadang kita hanya mengingatNya kalau kita berada pada titik terendah kita. Lain halnya ketika kita berada kondisi yang makmur, sejahtera dan tidak kekurangan suatu apapun maka kita akan cenderung untuk melupakan dari mana sejatinya itu semua berasal hingga akhirnya kita menjadi sombong.

Ada hal menarik yang berkaitan dengan sifat sombong dengan realitas kehidupan kita sehari-hari. Pernahkan kita berfikir hikmah di balik realitas grafitasi? Semua benda yang dilempar keatas, cepat atau lambat pasti akan kembali ke bawah. Realitas itu menggambar akan bentuk ketawaduan semua benda yang ada di bumi. Seberat, semahal, sebagus apapun benda tersebut ketika dilemparkan ke atas dan sampai pada tingkat tertinggi maka ia tetap akan kembali ke bawah. Ia tidak akan terlena dengan posisi di atas yang hanya sementara dan ingin segera bersujud kepada sang Illahi. SubhanaAllah.

Semoga kita dianugerahkan Allah hati yang bersih dari segala bentuk kotoran hati yang pada akhirnya merusak hubungan trasendental kita kepada Sang Pencipta. Allohumma inna nasaluka qolban khasi’an, tathmainu bi ‘athoika ya Rabbal ‘alamin. Wallahu’alam. []

                     USIM, Negeri Sembilan, 17/05/2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar