Pages

Rabu, 05 Juni 2013

IBADAH



Oleh : Iqbal Zen

Terkadang kita terlalu sempit dalam memaknai suatu hal. Misalnya saja dalam ibadah. Sering diantara kita memaknai ibadah dalam pemaknaan yang amat sangat sempit. Seorang muslim dikatakan sedang beribadah manakala ia sedang mengerjakan shalat. Atau ringkasnya suatu dianggap ibadah adalah prosesi yang nampak dari pandangan kita. 

Padahal, kalau kita telusur lebih jauh, maka, sejatinya pemaknaan terhadap ibadah sangat luas dan dalam. Bisa nampak (dzohir) dan tidak (bathin). Saya akan share sedikit cerita yang saya dapatkan dari salah seorang Kiyai favorit saya asal Kota Rembang. Iya, KH. Mustofa Bisri. 

Jadi, ada seorang bocah (budak kecik) yang sedang belajar di Sekolah Dasar (SD), sebut saja namanya Temon. Ia mendapatkan tugas dari gurunya untuk membuat tugas mengkliping ritual-ritual ibadah masing-masing agama. Tempo yang diberikan guru tersebut adalah satu Minggu. 

Waktu dengan cepat berlalu, hari pengumpulan tugas telah datang. Sang Guru pun memberikan intruksi kepada murid-muridnya untuk meletakkan tugasnya di atas meja masing-masing. 

Alangkah gubraknya (baca :  bingung) si temon saat itu. Ia belum mengerjakan tugasnya. Ia bergerak cepat, memutar otak. Ia pun mengambil gambar (foto) dirinya sendiri di dalam tas, kemudian menempelkannya ke dalam lembar kertas.

Manakala sang guru sampai di meja Temon, sang guru pun marah. “temon mana tugasmu???, kok kamu hanya menempelkan gambarmu dalam lembar tugasmu?!!
Temon pun menjawab, “sekarang kan sedang bulan puasa, jadi saya menempelkan gambar saya bu, saya kan sedang ibadah puasa”. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar