Salah satu problem
mendasar yang dialami umat
Islam di Indonesia khususnya
dan
negara-negara muslim ialah belum adanya sistem penanggalan yang terunifikasi
dan terintegrasi.
Unifikasi kalender merupakan kebutuhan mendesak untuk menyatukan segala
aktivitas umat muslim di seluruh penjuru dunia. Perbedaan yang kerap terjadi di
kalangan umat Islam merupakan contoh kecil dari sebuah kealfaan terhadap sistem
penanggalan ini. Berbagai persoalan kemudian muncul seperti penentuan awal
bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan perayaan hari besar lainnya. hal ini
membuktikan bahwa internal Umat Islam kesepakatan untuk bersatu menjadi barang
mahal.
Rabu, 01 Februari 2017
PENYATUAN KALENDER MUSLIM PERSPEKTIF PERADABAN·
Diposting oleh
Unknown
di
23.04
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Falak
Senin, 12 September 2016
Fiqh Kurban
Disajikan oleh Muhammad Iqbal Juliansyahzen
Berikut
beberapa hal terkait ibadah kurban, khususnya yang berkaitan dengan hukum
(fiqh) yang disajikan secara singkat (praktis) tentu.
Berikut
beberapa hal terkait ibadah kurban, khususnya yang berkaitan dengan hukum
(fiqh) yang disajikan secara singkat (praktis) tentu.
·
Kurban (bahasa
Arab qurb atau qurban) memiliki arti dekat atau mendekati. Acara
penyembelihan binatang ternak pada hari raya idul adha, tanggal 10,11,12,13
dzulhijjah, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Diposting oleh
Unknown
di
21.23
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Kajian Fiqih
MEMAKNAI IDUL ADHA
M. Iqbal JuliansyahzenAlhamdulillah wa Syukrulillah, seluruh umat muslim di seantero penjuru dunia sedang merayakan hari raya Idul Adha. Dalam tulisan singkat ini, penyaji akan sedikit menyuguhkan beberapa hal penting yang dapat dipetik pada perayaan hari raya ini.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ
وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan
haram …” (QS. Al Maidah (5): 2
قَدْ
كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ
Dalam
perjalanan spiritualitas seseorang kaitannya memaknai hari raya idul adha , kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan Nabi Ibrahim, Ismail dan siti Hajar r.a, sebagai berikut:
Diposting oleh
Unknown
di
20.56
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Kajian Keislaman
Senin, 04 April 2016
KONSEP FITRAH (Upaya Memahami Relasi Lawan Jenis)
Oleh
: M. Iqbal Juliansyahzen
Tulisan ini hanya
sebatas refleksi singkat penulis terhadap beberapa hal yang saat ini terbersit
dalam fikiran. Tujuannya, hanya sebatas sharing, atau mungkin sebagai sarana
ingat-mengingatkan. Tentu, bukan berarti penulis merupakan pribadi yang luput
dari kesalahan dan kekhilafan. Sekali lagi, murni bahwa tulisan ini lahir di
tengah “kegalauan” intelektual, spritual atau mungkin emosional terhadap
fenomena sosial. (hehehe, lebay sedikit ya...)
Manusia mempunyai
fitrah yang suci dari Alloh SWT untuk memiliki ketertarikan terhadap lawan
jenis, untuk saling mengasihi dan mencintai. Maka, fitrah yang suci mestinya
harus dijaga dengan perbuatan yang mengarah pada kesucian tersebut.
Diposting oleh
Unknown
di
01.10
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Muhasabah
Senin, 28 Maret 2016
(FALSAFAH) GINCU DAN GARAM
Oleh
: M. Iqbal Juliansyahzen
Beberapa hari yang
lalu, penulis ditanya oleh salah seorang teman terkait munculnya
gerakan-gerakan “Islam” yang berorientasi pada gerakan transnasional. Hal ini
wajar dipertanyakan, karena memang akhir-akhir ini gerakan seperti itu mulai
gandrung di kalangan muslim Indonesia. Gerakan untuk kembali pada romantisme
sejarah Islam di masa lalu,[1] akan tetapi lupa membangun
peradaban masa depan yang berorientasi nilai-nilai universal dan juga
memperhatikan nilai-nilai sosiologis dan antropologis yang hidup di tengah
masyarakat.
Pada tulisan ini,
penulis mencoba untuk mengetengahkan kembali nilai-nilai luhur yang disampaikan
oleh Bapak Bangsa, Bung hatta. Bung Hatta memperkenalkan falsafah gincu dan
garam, dalam konteks keagamaan Islam Gincu dan Islam Garam. Ketika itu, pemikiran
Bung Hatta mengalami penolakkan keras khususnya datang dari kalangan muda
muslim. Mereka menganggap Hatta semakin sekuler, karena ia melakukan “pembiaran”
terhadap Islam dengan tidak memformalisasikan Islam dalam bentuk kenegaraan. Berbeda
dengan Muhammad Natsir yang begitu semangat untuk memformalkan Islam dalam
bentuk negara.
Diposting oleh
Unknown
di
16.28
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Sosial Humaniora
Anak di Tengah Kekerasan
Oleh
: M. Iqbal Juliansyahzen
A.
Pengantar
Fenomena
kekerasan terhadap anak nampaknya sulit untuk dihilangkan dalam “tradisi”
manusia. Yayasan
Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) mengumpulkan data kekersan terhadap anak
antara 1994-1996 dengan memantau 13 media massa di Indonesia. Pada tahun 1994
tercatat 172 kasus, setahun berikutnya kasus meningkat menjadi 421. Jumlah
tersebut terus bertambah pada tahun 1996 bertambah menjadi 476 kasus. Sedangkan
pemantauan masyarakat melalui hotline service dan Komisi Nasional
Perlindungan Anak (Komnas PA) terhadap 10 media cetak, selama tahun 2005
dilaporkan terjadi 736 kasus kekerasan terhadap anak.[1]
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan rasio yang terus meningkat setiap
tahunnya bahkan hingga saat ini.
Kasus kekerasan terhadap anak nyata
terbaru ini terjadi terhadap Anggeline, korban meninggal akibat kekerasan orang
tua angkat di Bali. Anggeline awalnya merupakan anak angkat yang yang diadopsi
oleh keluarga yang serba berkecukupan secara materi dari keluarga yang
berlatarbelakang ekonomi rendah. Banyak spekulasi yang melatarbelakangi
pembunuhan korban di antaranya warisan dari ayah angkatnya hingga 60 persen.
Terlepas dari motif pembunuhan tersebut, yang jelas pembunuhan tersebut
menandakan bahwa anak merupakan sasaran empuk
kekerasan.
Diposting oleh
Unknown
di
02.33
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Muhasabah
Selasa, 15 Maret 2016
TEORI OTORITAS MAX WEBER : (Legal, Traditional dan Kharismatik)
Oleh : M. Iqbal
Juliansyahzen
A.
Pengantar
Sosiolog yang
mengembangkan teori kepemimpinan atau otoritas adalah Max Weber (1864 –
1920). Ia dilahirkan di Jerman dari sebuah keluarga kelas menegah. Ia pernah
menempuh pendidikan di Universitas Heidelberg. Karir akademik Weber semakin
meningkat ketika ia diangkat sebagai Professor Ekonomi di Univiersiras Freiburg
tahun 1984. Karya monumentalnya yang dijadikan sebagai referensi kajian ilmu
pengetahuan sosial modern ialah “Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme”.[1]
Weber mengembangkan
tiga tipe otoritas dalam masyarakat. Pertama, otoritas legal (Legal-Rational
Authority) yaitu otoritas yang bersumber dari legalitas atau suatu peraturan
tertentu. Kedua, otoritas tradisional (Traditional Authority), yang
otoritas yang keabsahannya bertumpu pada adat istiadat. Ketiga, otoritas
kharismatis (Charismatic Authority) yaitu otoritas yang keabsahannya
bersumber dari kharisma atau kualitas istimewa yang dimiliki oleh seseorang
yang diakui oleh orang lain. selebihnya akan dipaparkan berikutnya.[2]
Diposting oleh
Unknown
di
00.42
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Sosial Humaniora




